"Data Fiktif Penyubur Korupsi"
Oleh:Sepianus Rumbino
Apakah Korupsi merupakan turunan Jiwa leluhur Para Pejuang Kemerdekaan sejak Kemerdekaan Bangsa ini diperjuangkan??? Ataukah Korupsi Merupakan Budaya Bangsa ini??? Tidak & Bukan adalah Jawabannya.
Entah sampai Kapan, dan oleh siapa yang dapat berkata Jujur dan terbuka bahwa "Kami adalah Koruptor dan Kami yang Menciptakan Korupsi sebagai Virus yang menulari Bangsa Ini".
Tumbuh dan suburnya Korupsi di Negeri ini seakan tidak dapat dibendung karena Jahatnya melampaui batas kemampuan, kekebalan dan tingginya moral anak Bangsa.
KPK, BPK dan Lembaga-lembaga lainnya yang dibentuk untuk memerangi Korupsi ternyata belum juga Mematikan Virus tersebut. Apakah ini kesalahan para Pengajar Moral di Negara ini???, Apakah koruptor merupakan Warga Negara Indonesia yang tidak Beragama??? Sehingga Perasaan Bersalah/Berdosa tidak dirasakannya.
"Lebih dari virus, Korupsi adalah Game yang seru.
Korupsi lebih dari virus, korupsi merupakan Permainan yang seru yang dimainkan oleh orang-orang beragama yang tidak bermoral, rakus dan jahat "
Siapakah Mereka, mungkin Merupakan pertanyaan yang nyasar!!.
"Rakyat jelata atau sering disebut Akar rumput selalu Menyalahkan Para Pejabat, namun sayangnya Rakyat sendirilah yang sering keliru,tidak sadar, Memupuk dan menyuburkan Korupsi Melalui Data Fiktif yang diberikan sehingga dimainkan dalam Game Korup"
Tidak ada manusia yang sempurna mungkin itu yang akan dikatakan jika terdapat kesalahan dalam pengimputan informasi. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena manusia tidaklah sempurna; Kemampuan, ruang &waktu yang dimiliki dan dilewati sangatlah tidak sempurna namun, jika pemberian informasi itu dengan sengaja untuk mendapatkan keuntungan maka, itulah Kelalaian, pembiaran dan Kesalahan
Contoh kasus:
- Ketika ada pendataan Penduduk disuatu Desa/Kampung dalam Sensus penduduk, Ketika Pemutakhiran Data menjelang Pemilihan Umum atau Pendataan penduduk persiapan penerimaan Program Bantuan
sekalipun kenyataan hanya 10 Rumah namun jika ditanya "berapa Kepala Keluarga di desa/Kampung ini? ", jawabnya pasti " 100 Kepala Keluarga, 300 Jiwa" dan/lainnya.
Semuanya tentu memiliki Tujuan, namun sayangnya Data Fiktif seperti ini hanya akan memberi Peluang tumbuh dan suburnya Korupsi. Sebab para koruptor adalah orang-orang hebat yang dapat memainkan Game Korupsi dengan keuntungan dari Data Fiktif dan Data Real.
Dengan demikian Suburnya Korupsi bukan semata-mata Kesalahan Pejabat Tinggi Negara melainkan Kelalaian Rakyat Jelata/akar rumput yang tidak Kritis dalam Mengoreksi Data pada Desa/Kampungnya. Dengan kata lain, awal tumbuhnya korupsi berasal dari Ketidak Jujuran Rakyat sendiri.
"Jika tujuan Pendataan menyangkut Calon Penerima suatu program Bantuan, dalam satu Desa/Kampung dengan data real:10 KK, dan data Fiktif:90 KK, sudah dapat ditebak berapa yang dikorup oleh Mereka yang tahu Persis data realnya".
Untuk itu, sudah saatnya Rakyat Kritis tentang suatu Data, jika data tidak sesuai dengan kenyataan. agar tidak menguntungkan para Gamer Korup dari tingkat Rendah hingga tingkat tinggi.
Sebab pada kenyataannya, Program/Bantuan yang semestinya dirasakan oleh rakyat kecil tanpa sadar disapu juga oleh para Korup yang tidak kebagian jata dari data fiktif. juga perlu Kita sadari…bahwa Data fiktif dalam Pemilihan Umum juga bagian dari Pupuk Penyubur Benih Korupsi. Para Politikus kita ternyata selama turut Bersenang-senang dengan Data fiktif yang ada, apalagi jika Mereka berada dalam wilayah yang DPTnya terdapat data fiktif yang terkesan nyata.
#SelamatMerenungkan
Teluk Bintuni, 15/02/2019
Salam Kritis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar