Sabtu, 29 Juni 2019

FENOMENA UNIK PENDIDIKAN DAERAH TERPENCIL


“Harapan dari sebua Perjuangan adalah Kemerdekaan”  Demikian Bangsa Indonesia, Sejak 17 Agustus 1945 telah Merdeka, namun masih banyak harapan yang  hingga dihari ini masih diperjuangkan,  salah satu diantaranya adalah perjuangan Pendidikan yang sering dikeluhkan di daerah maju (kota-kota) terlebih daerah terisolir. Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah telah meluncurkan Program-program Pendidikan yang diharapkan dapat menjawab harapan dalam dunia pendidikan misalnya;  perubahan kurikulum,  Kartu Indonesia Pintar, pendidikan gratis, dan bantuan-bantuan  biaya operasional pendidikan,dll. Namun tetap saja masih banyak anaka-anak di negeri ini yang belum dicerdaskan.   Ironisnya Jika dilakukan penelitian ke daerah-daerah pelosok pada satuan pendidikan tingkat SD kelas V-VI dan SMP, pasti dijumpai ada siswa  yang Tidak dapat  membaca, menulis,dan berhitung, namun tetap naik kelas ataupun lulus. Beberapa alasan yang cukup logis mengapa siswa yang belum dapat membaca, menulis dan berhitung dapat naik kelas/ diluluskan dari satu satuan pendidikan SD,SMP atau SMA yang berada di daerah pedalaman terisolir,  walaupun pihak sekolah tahu persis bahwa siswa tersebut belum dapat  membaca, menulis dan berhitung, yaitu;
1.    Keinginan tanpa kesadaran dari orang tua murid/siswa
2.    Keberlangsungan sekolah tingkat lanjutan
Keinginan tanpa kesadaran dari orang tua murid/siswa
Sering Terdapat pemahaman bahwa selembar Ijazah lebih/sangat  penting, sehingga cukup mendapatkan Ijazah walaupun ilmunya tidak cukup. Hal ini sering menjadi perdebatan ketika rapat/pertemuan laporan hasil belajar untuk kenaikan kelas maupun kelulusan yang  berakibat adanya ancaman bagi pihak sekolah. Sebagian orang Tua/wali orang tua memiliki keinginan agar anak mereka bias naik kelas atau lulus dalam ujian namun mereka menyadari hasil laporan belajar bahwa anak mereka belum dapat membaca, menulis ataupun berhitung sehingga tetap menerima keputusan dari sekolah bahwa anak mereka tahan kelas atau tidak lulus ujian, namun disisi lain ada orang tua/wali orang tua yang tetap ngotot agar anak mereka tetap naik kelas atau harus lulus Ujian walaupun anak tersebut belum dapat mencapai standard kenaikan kelas atau kelulusan, demikian hal aneh yang masih nyata.
Keberlangsungan Beroperasinya sekolah
Satu hal lagi yang merupakan alasan  yaitu keberlangsungan Beroperasinya Sekolah pada wilayah tersebut, Sebagai contoh jika dalam satu wilayah yang terisolir terdapat  1 (satu) SD , 1 (satu) SMP dan 1 (satu) SMA   pada awal penerimaan siswa baru pada SD, siswa yang mendaftar pada kelas I (satu) hanya 5 Orang kemudian pada waktu ulangan/Ujian kenaikan kelas hanya 2 (dua)  siswa yang memenuhi standar /kriteria  dan ditetapkan naikan kelas/lulusan,  dengan demikian dapat dibayangkan hal tersebut pada kelas selanjutnya sampai pada kelas VI (enam), berapakah siswa yang akan lulus dan melanjutkan ke tingkat SMP??? Hal yang sama tentu berlaku pada tingkat SMP dan SMA.  Persoalan ini memang bukanlah persoalan utama namu mengingat  jika tidak ada siswa atau tidak adanya aktifitas kegiatan belajar mengajar dengan tidak adanya peserta didik maka sekolah tersebut akan ditutup. Dan apabila sekolah tersebut ditutup tentu menimbulkan kemunduran atau dampak lain yaitu sulitnya masyarakat daerah tersebut untuk menyekolahkan anak-anak mereka, sekalipun ada keinginan bahkan kerelaan untuk menitipkan anak mereka bersekolah di daerah lain/di kota namun,  akan berdampak ataupun tergantung pada tingkat kemampuan mental anak dan ekonomi keluarga. 
Kembali  pada persoalan utama bahwa di daerah pelosok pada satuan pendidikan tingkat SD kelas V-VI dan SMP, ada siswa  yang Tidak dapat  membaca, menulis,dan berhitung lalu dihubungkan dengan poin 1(satu) dan 2 (dua )  alasan diluluskan siswa walapun Tidak dapat  membaca, menulis,dan berhitung akan terkesan tepat, dan tidak ada persoalan. namun hanya dapat berlaku dan dipahami oleh sekolah lanjutan pada wilayah tersebut. Tetapi sayangnya  berdampak ketika siswa memutuskan untuk melanjutkan ke luar zona.  Tak heran jika siswa lulusan SD, SMP dan SMA dari daerah Pedalaman yang ingin melanjutkan ke tingkat SD, SMP, SMA atau Perguruan tinggi sering mengalami kendala sulit diterima dan menerima dalam menyesuaikan diri yang pada akhirnya memilih untuk pindah kembali ke kampung halaman bahkan ada yang memilih untuk putus sekolah dengan demikian yang menjadi korban adalah Anak-anak murid itu sendiri. Lalu siapakah yang wajib bertanggung jawab  terhadap pendidikan bangsa ini??
“demikian menjadi renungan setiap pribadi untuk bertanggung jawab terhadap pembangunan pendidikan anak bangsa sesuai kapasitas dan tugas masing-masing”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar