“Harapan dari sebua Perjuangan adalah
Kemerdekaan” Demikian Bangsa Indonesia,
Sejak 17 Agustus 1945 telah Merdeka, namun masih banyak harapan yang
hingga dihari ini masih diperjuangkan,
salah satu diantaranya adalah perjuangan Pendidikan yang sering
dikeluhkan di daerah maju (kota-kota) terlebih daerah terisolir. Kebijakan
Pemerintah Pusat dan Daerah telah meluncurkan Program-program Pendidikan yang
diharapkan dapat menjawab harapan dalam dunia pendidikan misalnya; perubahan kurikulum, Kartu Indonesia Pintar, pendidikan gratis,
dan bantuan-bantuan biaya operasional
pendidikan,dll. Namun tetap saja masih banyak anaka-anak di negeri ini yang
belum dicerdaskan. Ironisnya Jika
dilakukan penelitian ke daerah-daerah pelosok pada satuan pendidikan tingkat SD
kelas V-VI dan SMP, pasti dijumpai ada siswa
yang Tidak dapat membaca,
menulis,dan berhitung, namun tetap naik kelas ataupun lulus. Beberapa alasan
yang cukup logis mengapa siswa yang belum dapat membaca, menulis dan berhitung
dapat naik kelas/ diluluskan dari satu satuan pendidikan SD,SMP atau SMA yang
berada di daerah pedalaman terisolir,
walaupun pihak sekolah tahu persis bahwa siswa tersebut belum dapat membaca, menulis dan berhitung, yaitu;
1.
Keinginan tanpa kesadaran dari orang tua murid/siswa
2.
Keberlangsungan sekolah tingkat lanjutan
Keinginan
tanpa kesadaran dari orang tua murid/siswa
Sering
Terdapat pemahaman bahwa selembar Ijazah lebih/sangat penting, sehingga cukup mendapatkan Ijazah
walaupun ilmunya tidak cukup. Hal ini sering menjadi perdebatan ketika
rapat/pertemuan laporan hasil belajar untuk kenaikan kelas maupun kelulusan
yang berakibat adanya ancaman bagi pihak
sekolah. Sebagian orang Tua/wali orang tua memiliki keinginan agar anak mereka
bias naik kelas atau lulus dalam ujian namun mereka menyadari hasil laporan
belajar bahwa anak mereka belum dapat membaca, menulis ataupun berhitung
sehingga tetap menerima keputusan dari sekolah bahwa anak mereka tahan kelas
atau tidak lulus ujian, namun disisi lain ada orang tua/wali orang tua yang
tetap ngotot agar anak mereka tetap naik kelas atau harus lulus Ujian walaupun
anak tersebut belum dapat mencapai standard kenaikan kelas atau kelulusan, demikian
hal aneh yang masih nyata.
Keberlangsungan
Beroperasinya sekolah
Satu
hal lagi yang merupakan alasan yaitu
keberlangsungan Beroperasinya Sekolah pada wilayah tersebut, Sebagai contoh
jika dalam satu wilayah yang terisolir terdapat
1 (satu) SD , 1 (satu) SMP dan 1 (satu) SMA pada
awal penerimaan siswa baru pada SD, siswa yang mendaftar pada kelas I (satu)
hanya 5 Orang kemudian pada waktu ulangan/Ujian kenaikan kelas hanya 2
(dua) siswa yang memenuhi standar
/kriteria dan ditetapkan naikan kelas/lulusan, dengan demikian dapat dibayangkan hal
tersebut pada kelas selanjutnya sampai pada kelas VI (enam), berapakah siswa
yang akan lulus dan melanjutkan ke tingkat SMP??? Hal yang sama tentu berlaku
pada tingkat SMP dan SMA. Persoalan ini
memang bukanlah persoalan utama namu mengingat
jika tidak ada siswa atau tidak adanya aktifitas kegiatan belajar
mengajar dengan tidak adanya peserta didik maka sekolah tersebut akan ditutup.
Dan apabila sekolah tersebut ditutup tentu menimbulkan kemunduran atau dampak
lain yaitu sulitnya masyarakat daerah tersebut untuk menyekolahkan anak-anak
mereka, sekalipun ada keinginan bahkan kerelaan untuk menitipkan anak mereka
bersekolah di daerah lain/di kota namun,
akan berdampak ataupun tergantung pada tingkat kemampuan mental anak dan
ekonomi keluarga.
Kembali pada persoalan
utama bahwa di daerah
pelosok pada satuan pendidikan tingkat SD kelas V-VI dan SMP, ada siswa yang Tidak dapat membaca, menulis,dan berhitung lalu
dihubungkan dengan poin 1(satu) dan 2 (dua )
alasan diluluskan siswa walapun Tidak dapat membaca, menulis,dan berhitung akan terkesan
tepat, dan tidak ada persoalan. namun hanya dapat berlaku dan dipahami oleh
sekolah lanjutan pada wilayah tersebut. Tetapi sayangnya berdampak ketika siswa memutuskan untuk
melanjutkan ke luar zona. Tak heran jika
siswa lulusan SD, SMP dan SMA dari daerah Pedalaman yang ingin melanjutkan ke
tingkat SD, SMP, SMA atau Perguruan tinggi sering mengalami kendala sulit
diterima dan menerima dalam menyesuaikan diri yang pada akhirnya memilih untuk
pindah kembali ke kampung halaman bahkan ada yang memilih untuk putus sekolah
dengan demikian yang menjadi korban adalah Anak-anak murid itu sendiri. Lalu siapakah
yang wajib bertanggung jawab terhadap
pendidikan bangsa ini??
“demikian menjadi renungan setiap pribadi untuk bertanggung jawab
terhadap pembangunan pendidikan anak bangsa sesuai kapasitas dan tugas
masing-masing”
